Dari HMI hingga Akademisi, Perjalanan Panjang Dr. Budiyono untuk Unila

BERITA227 Dilihat

Bandar Lampung – Pagi itu, suasana Fakultas Hukum Universitas Lampung masih ramai oleh aktivitas mahasiswa. Di sela kesibukan kampus, nama Dr. Budiyono, S.H., M.H. kembali menjadi perbincangan banyak kalangan.

Bukan semata karena kiprahnya sebagai akademisi senior, melainkan karena perjalanan panjang pengabdian yang membuatnya dipandang sebagai salah satu figur harapan baru bagi masa depan Universitas Lampung.

Budiyono bukan sosok yang lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dari keluarga sederhana di Tanjungkarang. Lahir pada 19 Oktober 1974, putra pasangan Zaini Muqodam dan Harleni itu sejak kecil telah dibesarkan dalam lingkungan yang menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan pengabdian.

Ayah dan ibunya yang merupakan pensiunan pegawai negeri sipil mengajarkan satu hal penting: pendidikan adalah jalan untuk memberi manfaat bagi banyak orang.
Nilai itulah yang kemudian melekat kuat dalam perjalanan hidup Budiyono.

Ia tumbuh sebagai pribadi tenang dan sederhana. Tidak banyak bicara, tetapi konsisten bekerja. Sikap itu terbentuk dari kehidupan keluarga yang mengajarkan arti tanggung jawab dan kepedulian sosial sejak dini.

Perjalanan intelektual Budiyono dimulai di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Di kampus inilah ia tidak hanya belajar teori hukum, tetapi juga belajar tentang kehidupan, kepemimpinan, dan perjuangan.

Semasa mahasiswa, Budiyono aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung. Organisasi itu menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus tempat ia belajar memahami demokrasi dan keberanian menyampaikan aspirasi.

Tak berhenti di sana, Budiyono juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dari organisasi itu, cara pandangnya tentang bangsa, keadilan sosial, dan pengabdian semakin terbentuk.

Ia dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berdiskusi, terbuka terhadap perbedaan pendapat, dan dekat dengan banyak kalangan.

“Organisasi mengajarkan bagaimana berpikir untuk kepentingan yang lebih besar, bukan sekadar kepentingan pribadi,” ujar salah satu rekan lamanya mengenang masa-masa aktivisme Budiyono, Rabu (20/5/26).

Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum pada 1998, Budiyono melanjutkan studi Magister Hukum dan lulus tahun 2004. Semangat akademiknya terus tumbuh hingga akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran pada 2012.

Namun bagi Budiyono, pendidikan bukan hanya tentang gelar.

Sejak menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung tahun 2004, ia memilih menempatkan dirinya sebagai pendidik yang dekat dengan mahasiswa.

Di ruang kelas, ia dikenal komunikatif dan mendorong mahasiswa berpikir kritis.

Ia tidak membangun jarak.

Mahasiswa kerap melihatnya bukan hanya sebagai dosen, tetapi juga tempat berdiskusi dan meminta pandangan tentang banyak hal, mulai dari akademik hingga persoalan kehidupan.

Di lingkungan akademik, Budiyono dikenal sebagai sosok yang mengedepankan integritas dan musyawarah. Pengalamannya sebagai akademisi, tenaga ahli, konsultan hukum, hingga penggerak berbagai organisasi strategis membuatnya memahami banyak sisi dalam tata kelola kelembagaan.

Perjalanan panjang itu perlahan membentuk reputasinya sebagai figur akademisi matang yang mampu menjembatani berbagai kepentingan.

Di tengah dinamika dunia kampus, nama Budiyono juga beberapa kali diperbincangkan dalam konteks pencapaian akademik tertinggi sebagai guru besar. Namun ia memilih meresponsnya dengan tenang.

Baginya, kehormatan seorang akademisi tidak semata diukur dari jabatan atau gelar, melainkan dari konsistensi dalam mengajar, meneliti, membimbing, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, ia memilih tetap bekerja dan mengabdi tanpa larut dalam polemik.
Sikap itulah yang membuat banyak kalangan menilai Budiyono sebagai akademisi yang dewasa dan matang secara intelektual.

Di balik aktivitas akademiknya, Budiyono juga dikenal sebagai sosok keluarga yang hangat. Bersama istrinya, Titiek Fitriyani yang mengabdi sebagai ASN Pemerintah Provinsi Lampung, ia membangun keluarga dengan nilai pendidikan dan kedisiplinan.

Nilai itu tercermin dalam perjalanan anak-anak mereka. Putra sulungnya, M. Farel Firdiansyah Putra, kini mengabdi sebagai jaksa. Putrinya, Fathiya Firdiansyah Putri, melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Padjadjaran. Sementara putra bungsunya, M. Fadlan Firdiansyah Putra, masih menempuh pendidikan.

Bagi Budiyono, keluarga bukan sekadar tempat pulang, tetapi juga ruang untuk menjaga nilai-nilai pengabdian dan integritas tetap hidup.

Kini, di tengah tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompleks, dukungan terhadap Budiyono untuk maju sebagai Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031 terus mengalir.

Dukungan itu datang dari berbagai kalangan: mahasiswa, akademisi, alumni, hingga tokoh masyarakat.

Mereka melihat Budiyono sebagai sosok yang memiliki kombinasi lengkap: kuat secara akademik, matang dalam organisasi, memahami tata kelola birokrasi kampus, dekat dengan mahasiswa, dan memiliki jejaring luas.

Menanggapi dukungan tersebut, Budiyono memilih bersikap tenang.

Baginya, memimpin Universitas Lampung bukan soal jabatan, melainkan amanah besar untuk membawa kampus menjadi lebih maju, bersih, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Salah satu gagasan besar yang ia dorong adalah pengembangan Kampus II Universitas Lampung sebagai smart and green campus di lahan sekitar 150 hektar.

Ia membayangkan kampus masa depan yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ruang lahirnya inovasi, riset, dan kolaborasi di berbagai bidang strategis.

Menurutnya, Universitas Lampung harus semakin membuka diri terhadap kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, industri, hingga perguruan tinggi internasional.

Ia percaya, masa depan kampus tidak bisa dibangun sendiri.

Kolaborasi menjadi kunci.

Di mata banyak orang, Budiyono hari ini bukan sekadar dosen atau akademisi.

Ia adalah figur intelektual yang tumbuh dari kesederhanaan, ditempa organisasi, dibesarkan oleh nilai keluarga, dan konsisten menjaga integritas dalam pengabdian.

Dari perjalanan panjang itulah lahir keyakinan banyak pihak bahwa Budiyono bukan hanya layak memimpin Universitas Lampung, tetapi juga mampu membawa semangat baru bagi masa depan Unila yang lebih maju, inklusif, dan bermartabat. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *