Kabar Baik, IDSL/PUMMA Terpasang di Pulau Rakata Kawasan GAK Lamsel

BERITA115 views

MEDIAPUBLIKA.com – Kabar baik selimuti fluktuasi kegempaan hembusan maupun kegempaan tremor dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) Selat Sunda. Sekaligus kabar baik bagi mitigasi bencana dan mitigasi risiko bencana alam gempa bumi dan tsunami potensi ancaman erupsi sebagaimana preseden 22 Desember 2018.

Apa itu? Yakni bahwa di Pulau Rakata (Pulau Krakatau Besar); pulau 14 km persegi sisa letusan Krakatau 1883 yang pesisirnya kaya terumbu karang dan ada wisata bawah air Laguna Cabe, terletak di koordinat 6°8′46.5″ LS 105°26′23.3″ BT sisi selatan tiga pulau (Anak Krakatau, Sertung, Panjang/Krakatau Kecil), bagian kepulauan dan Cagar Alam Krakatau dan masuk wilayah administratif Kabupaten Lampung Selatan; saat ini telah terpasang instalasi deteksi dini tsunami.

Dikabarkan salah satunya oleh anggota Badan Penyelamatan Wisata Tirta (Balawista) Banten, Samsul Hidayat; diteruskan oleh Irwan Rimba, pengurus Forum Relawan Bencana (FRB) Lampung pimpinan Deni Ribowo, Selasa 3 Mei 2022, instalasi itu berlokasi di mercusuar pulau.

“lzin melaporkan, saat ini di Krakatau sudah terpasang IDSL, di mercusuar Pulau Rakata. Berfungsi sebagai alat deteksi dini tsunami yang menginformasikan melalui pergerakan air laut akibat gelombang tsunami yang bersumber dari Kepulauan Krakatau yang berjarak sekitar 47 km ke daratan pesisir Selat Sunda dengan durasi 25-30 menit sebelum sampai ke daratan,” ujar Samsul mengabarkan.

Informasi lain menyebut, detektor dini yang terpantau telah terpasang di Pulau Rakata, Minggu (30/4/2022) itu, dipasang berkat kerja sama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Kementerian Perhubungan (BMKG selaku otoritas sistem peringatan dini tsunami atau Tsunami Early Warning System/TEWS di Indonesia); dengan Badan Geologi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM); Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo); Balawista, satu unsur pemandu keselamatan penting selain Basarnas, Polri, Sarda, unsur SAR lain.

Tentang IDSL/PUMMA

Instalasi Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL), di Tanah Air disebut Perangkat Ukur Muran untuk Muka Air laut (PUMMA) ialah alat ukur muka air otomatis, realtime dengan kerapatan tinggi dilengkapi CCTV, mampu beri peringatan otomatis jika terjadi anomali pada muka air yang tengah terukur dengan sangat cepat (per detik).

Disarikan dari laman Badan Riset dan SDM, Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dikutip diakses dari Bandarlampung, Selasa, IDSL sebagaimana terbukti kinerjanya yang amat baik sebagai alternatif penguatan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia kurun 3 tahun terakhir ini, sedikitnya memiliki delapan kelebihan.

Yakni, harga murah, mudah dibuat, mudah dipasang, didesain sesederhana semurah mungkin tanpa mengurangi kualitas dan kinerja utamanya sebagai alat peringatan dini tsunami, murah mudah serta potensi pelibatan masyarakat dalam perawatannya tinggi, memanfaatkan sebesar-besarnya jaringan infrastruktur pendukung eksisting di Indonesia terutama infrastruktur telko Kemkominfo dan infrastruktur pelabuhan di Kemenhub dan KKP, dapat diproduksi di Indonesia, didukung secara internasional.

Joko Subandriyo dan Semeidi Husrin (KKP) melaporkan, IDSL terpasang sebelumnya di Indonesia sudah beroperasi lebih dari dua tahun, telah diadopsi ke BMKG sebagai otoritas TEWS di Indonesia, BOM Australia, dan IOC Sea level Monitoring.

IDSL/PUMMA di Pulau Rakata kawasan GAK Selat Sunda Lampung Selatan, adalah yang ke-9 setelah IDSL/PUMMA terpasang lain di 8 lokasi sepanjang pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa: Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tua Pejat, Mentawai Sumatera Barat; Pelabuhan Penyeberangan Samudera (PPS) Bungus, Kecamatan Nanggalo Kota Padang Sumatera Barat; Pulau Sebesi, Desa Tejang Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan; Marina Jambu, Desa Bulakan Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang Banten; Pangandaran, Jawa Barat; Pelabuhan Ratu, Jawa Barat; Pelabuhan Sadeng, Songbanyu Kabupaten Gunung Kidul DI Yogyakarta; dan Pelabuhan Prigi, Jawa Timur.

Belajar dari tragedi tsunami Selat Sunda akibat erupsi gunung api GAK 2018, tsunami Palu Sulawesi Tengah 2018-Maluku Tengah 2021 akibat longsoran bawah laut (tsunami yang tak diakibatkan oleh dan/atau tsunami akibat non-gempa bumi yang frekuensi kejadiannya meski tak sebanyak yang diakibatkan oleh gempabumi), ketiganya kaya daya rusak dahsyat yang ditimbulkan.

Apalagi Indonesia dianugerahi Ilahi sejumlah pulau gunung api, sedikitnya 8 gunung api bawah laut dan potensi longsoran bawah laut yang masygulnya, belum terpetakan.

Tsunami Palu dan Selat Sunda 2018 lahirkan kerja sama riset antara Pusat Riset Kelautan BRSDMKP-KKP, Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATSI) dan Joint Research Centre-theEurope Commission (JRC-EC) untuk penguatan TEWS di Indonesia. Kerja sama lebih 2,5 tahun terakhir ini didukung multipihak termasuk BMKG, dan Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai otoritas pengukuran pasang surut di Indonesia.

Kerja sama riset penguatan TEWS untuk deteksi tsunami non-tektonik juga meluas dengan melibatkan institusi riset Indonesia seperti BPPT-LIPI (kini lebur di BRIN), para universitas dalam negeri seperti Universitas Lampung (Unila), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Universitas Bengkulu (Unib), Universitas Syah Kuala Banda Aceh (Unsyiah) dan Telkom University Bandung.

Direktur Kerja Sama Interregional Amerika dan Intra-Eropa, Kementerian Luar Negeri, Masni Eriza, selaku perwakilan Indonesia di KTT ke-5 Indonesia-Uni Eropa 22 Juni 2021 secara virtual menegaskan, perkuatan kerja sama termasuk dalam penguatan TEWS memanfaatkan IDSL sebagai satu bagian penting relasi Indonesia-Uni Eropa, penting untuk dilanjut dan dikembangkan di masa depan bagi kepentingan mitigasi bencana tsunami, dan pengelolaan dan monitoring sumber daya laut dan pesisir Indonesia.

Sebagai imbuhan informasi, tiga tahun sudah beroperasinya IDSL/PUMMA di Tanah Air, keberhasilannya mendeteksi tsunami Tonga 15 Januari 2022 lalu serta kejadian-kejadian sebelumnya membuktikan kinerja sangat baik sebagai alternatif penguatan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.

Pengingat, tsunami di Tonga (Kerajaan Tonga), negara tak berdaulat Polinesia berbentuk kepulauan 177 pulau seluas total 750 km persegi tersebar lebih dari 700 ribu km persegi di selatan Samudera Pasifik, akibat letusan pulau gunung api Tonga yang menghantam merusak pesisir Kepulauan Tonga terutama Pulau Tongatapu, menjalar menyebar segala arah di sejumlah kawasan Samudera Pasifik seperti Australia, Selandia Baru hingga Jepang dan pantai barat Benua Amerika berketinggian bervariasi.

Tsunami itu akhirnya pun mencapai perairan Indonesia, yang bersyukurnya per geografis terlindung Benua Australia hingga energi tsunami yang menjalar “terhadang” daratan begitu luas. Pemodelan tsunami travel time dari Tonga ke Indonesia ini menunjukkan, tsunami mencapai Indonesia 8 jam 47 menit pasca erupsi, hampir 9 jam kemudian.

Kini, IDSL/PUMMA sebagian besar dipasang di fasilitas milik KKP dalam hal ini pelabuhan perikanan yang faktanya berada di garis terdepan mendeteksi fenomena tsunami. Ditinjau dari fungsi utama sebagai detektor dini tsunami, IDSL/PUMMA miliki perbedaan besar dengan stasiun pasang surut biasa, meski sama mengukur elevasi muka air.

Terkait IDSL terpasang di Pulau Rakata, wisatawan, pemilik hotel, pemilik tempat wisata pantai dan masyarakat luas diimbau bisa lebih tenang namun tetap waspada dan mengikuti informasi pihak berwenang.

“Juga diinformasikan ke pelaku pariwisata, sinyal akan segera hadir di areal Krakatau sehubungan BTS telah terpasang di Pulau Sebesi untuk mendukung berfungsinya alat tersebut. Mari kita jaga sama-sama supaya terus berikan informasi real timenya. Mari berwisata dengan tenang, aman, nyaman,” pungkas Samsul Hidayat.

Terpisah, Ketua Forum Relawan Bencana (FRB) Lampung, Deni Ribowo, menyambut hangat kabar terpasangnya IDSL di Pulau Rakata, dan BTS di Pulau Sebesi Rajabasa Lampung Selatan itu.

“Barakallah. Saya dan jejaring FRB Lampung turut senang. Semoga dijauhkan dari aksi tangan jahil. Mampu beri efek luar biasa bagi peningkatan kapasitas respons deteksi dini tsunami terutama yang terkait dengan pemodelan tsunami travel time, dan juga peningkatan kapabilitas sumber daya INA TEWS kita,” ujar Deni Ribowo yang juga anggota DPRD Lampung ini, melalui saluran elektronik, terhubung Rabu (4/5/2022).

Dia menilai, dari kesuksesannya mendeteksi tsunami usai 3 tahun terpasang di Indonesia pasca tsunami Selat Sunda 2018, dipasang IDSL/PUMMA di Rakata ini menyusul Sebesi sebelumnya, sudah selayaknya.

“Sederhana saja. Zonasi Selat Sunda telah dipasangi berbagai sensor deteksi potensi kebencanaan seperti buol dan lainnya. Tapi kita ketahui belum ada yang peruntukannya betul-betul untuk kebutuhan deteksi dini tsunami akibat aktivitas gunung api, GAK katakanlah,” sergah dia.

Sehingga, dia menandaskan, mengambil perumpamaan, misal andaikata tsunami seperti 2018 terjadi lagi, semua alat yang ada di Selat Sunda dikuatirkan kurang bisa mendeteksi cepat tsunami yang menerjang.

Kekhawatiran Deni cukup beralasan, sebab sebelum IDSL/PUMMA terpasang di Rakata-Sebesi ini, memang belum ada detektor tsunami yang dipasang dekat kepulauan Krakatau. Padahal, infrastruktur sekitar situ sangat memungkinkan dipasangi alat-alat deteksi tsunami seperti IDSL/PUMMA ini.

Jarkom seluler ada dan sudah dicek tim FT Unila, struktur navigasi sekitar pulau-pulau Krakatau bisa dipakai buat pasang alat semacam IDSL/PUMMA, sistem komunikasi eksisting milik Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM di area GAK juga bisa memperkuat infrastruktur jarkom perairan Krakatau demi deteksi dini tsunami.

“Alhamdulillah sekarang kekhawatiran kita bisa sedikit berkurang, tetapi kewaspadaan tetap harus tinggi. Terima kasih jerih semua pihak hingga terpasangnya IDSL/PUMMA di Pulau Rakata ini. Ini bukti negara hadir, bukti kesiapsiagaan tanggap darurat bencana alam tsunami jadi kerja-kerja arus utama. Selamat Lebaran,” pungkas Deni Ribowo.

Adapun, elemen tergabung FRB Lampung, yakni Deni Ribowo (DRB) Care Relawan Kesehatan, Forum Rescue dan Relawan Lampung (FRRL), Indonesia OffRoad Federation (IOF) Rescue Lampung, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Lampung, Kwarda Gerakan Pramuka Lampung, Pendaki Indonesia Lampung Sai, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Lampung, Suzuki Club Reaksi Cepat Lampung, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lampung, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Daerah Lampung, Wahana Pecinta Alam (Watala), dan Vertical Rescue Indonesia Lampung (VRI) Lampung. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *